weekend-1

Weekend

Info seputar SGP Hari Ini 2020 – 2021.

SATE Klathak menjadi kuliner buruan wisatawan ketika tengah berada di Yogyakarta. Daging kambing nan empuk dan gurih dengan dengan kuah gule yang segar membuat kuliner khas Dusun Jejeran Bantul itu kian spesial.

Bahkan, kini, sate Klathak tidak hanya bisa dinikmati di sekitar Dusun Jejeran. Salah satu sate Klathak yang terkenal di luar Dusun Jejeran adalah sate Klathak Pak Jede.

Manajer Sate Klathak Pak Jede, Haris Hermawan, menceritakan Sate Klathak Pak Jede mulai buka pada September 2013.

Baca juga: Ketahui Cara Membatasi Makanan Bersantan agar Tetap Aman

“Kami buka disini (Nologaten No 46, Sleman) agar masyarakat Jogja yang ingin menikmati Sate Klathak tidak perlu jauh-jauh ke Jejeran, ” terang Haris, yang berasal dari sekitar Dusun Jejeran, ketika ditemui di Gerai Sate Pak Jede, Senin (10/5).

Seluruh bumbu-bumbu dan cara pembuatan Sate Klathak Pak Jede dibuat secara otentik dengan cita rasa Sate Klathak di Jejeran.

Daging kambing pilihan ditusuk dengan jeruji sepeda kemudian dibakar. Sate bakar disajikan dengan kuah gule dan bisa ditambah dengan irisan bawang merah dan cabai rawit sesuai selera.

Haris juga menceritakan, sate klathak berasal dari istilah warga sekitar Jejeran untuk daging kambing yang dibumbui garam krosok (garam laut kasar) yang kemudian dipanggang di atas bara arang.

Namun, seiring berjalannya waktu, bumbu Sate Klathak kini tidak hanya garam. Bumbu-bumbu lain, seperti kemiri dan bawang putih, ditambahkan untuk menguatkan cita rasa, tetapi tidak meninggalkan rasa asin yang sudah menjadi ciri khas sate Klathak.

Sate Klathak pertama kali dijajakan di sekitar Pasar Jejeran, Imogiri pada tahun 1960-an.

Saat itu, pedagang sate klathak yang terkenal antara lain adalah Mbah Cupet, Mbah Ambyah, dan Mbah Umar.

Istilah sate klathak berasal dari suara daging yang dilumuri garam sehingga saat dibakar berbunyi klathak-kiathak. Sementara itu, istilah klathak, ada juga yang menyebut, berasal dari suara buah melinjo yang jatuh ke atap pedagang sate di Pasar Jejeran.

Sate Klathak Pak Jede, jelas Haris, menawarkan konsep suasana warung sate tradisional yang otentik dan lebih mudah dijangkau dari kota Yogyakarta.

Selain itu, tempatnya yang luas dan bersih menjadikan tempat ini dapat menerapkan protokol kesehatan secara maksimal.

Rahasia dapur

Haris, dalam kesempatan itu, juga menceritakan rahasia dapur agar daging sate klathak bisa lembut dan mak nyus ketika digigit.

Menurut dia, hanya daging kambing pilihan cocok untuk diolah menjadi sate klathak yang lezat.

“Pertama, kambingnya harus pilihan, yang berusia 7-8 bulan. Daging yang digunakan juga harus paha bagian belakang dan punggung, ” kata dia.

Penggunaan jeruji juga membantu proses pemasakan agar cepat mencapai kematangan yang pas.

Haris juga menjelaskan, setiap bagian dari seekor kambing memiliki cita rasa yang khas. Bagian-bagian tertentu cocok untuk masakan-masakan tertentu, misalnya, sayapan dan tengkuk (cengel) cocok untuk dimasak tongseng.

Selain sate klathak, menu lain yang bisa dipilih, antara lain sate bumbu kecap, tongseng, kicik (tongseng dengan kuah sedikit), gulai jeroan, lelung (gule balungan), tengkleng, nasi goreng kambing, dan soto daging kambing.

Harga seporsi sate klathak adalah Rp25 ribu. Selain itu, menu lain dibanderol dengan harga berkisar Rp10 ribu hingga Rp30 ribu per porsi.

Haris mengaku, masa pandemi membuat omsetnya menurun drastis.

“Sebelum pandemi, kami bisa menghabiskan 7-10 ekor kambing per hari. Namun, saat pandemi, kami hanya menghabiskan 3-5 ekor perhari, ” kata dia.

Haris pun berharap, pandemi covid-19 dapat segera berlalu. Dengan demikian, wisata kuliner dapat kembali bangkit sehingga perekonomian juga segera pulih.

Sementara itu, Agung yang berdomisili di Gambiran mengaku cocok dengan cita rasa sate Pak Jede. Lokasinya yang dekat dengan pusat kota membuatnya mudah dijangkau saat berkumpul dengan teman-temannya. (OL-1)