Rekanan Bakamla Divonis 5 Tahun Tangsi

Rekanan Bakamla Divonis 5 Tahun Tangsi

DIREKTUR Utama PT Compact Microwave Indonesia Teknologi (CMI Teknologi) Rahardjo Pratjihno divonis 5 tahun penjara, ditambah denda Rp600 juta subsider 6 bulan penjara. Rahardjo dinyatakan terbukti melakukan korupsi proyek di Badan Keamanan Bahar (Bakamla) tahun anggaran 2016.

Proyek tersebut ialah pengadaan backbone coastal surveillance system (BCSS) yang terintegrasi secara Bakamla Integrated Information
System (BIIS) yang telah merugikan keuangan negara sebesar Rp63, 829 miliar.

“Mengadili, menyatakan terdakwa Rahardjo Pratjihno terbukti secara sah dan meyakinkan taat hukum bersalah melakukan tindak pidana korupsi secara bersama-sama. Menjatuhkan kejahatan terhadap terdakwa berupa pidana penjara selama 5 tahun dan pidana denda sebesar Rp600 juta subsider 6 bulan kurungan, ” sirih Ketua Majelis Hakim Muslim di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) Jakarta, kemarin.

Vonis itu lebih nista daripada tuntutan yang diajukan jaksa Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), yakni agar Rahardjo divonis 7 tahun penjara, ditambah denda Rp600 juta subsider 6 bulan kurungan bersandarkan dakwaan primer Pasal 2 bagian (1) jo Pasal 18 UNDANG-UNDANG No 31 Tahun 1999 sebagaimana telah diubah dengan UU No 20 Tahun 2001 tentang Pemberantasan Korupsi jo Pasal 55 bagian (1) ke-1 KUHP.

Rahardjo juga diwajibkan untuk membayar uang pengganti sebesar Rp15, 14 miliar sesuai dengan keuntungan yang ia terima.

“Menghukum tersangka dengan pidana tambahan berupa membalas uang pengganti kepada negara sebesar Rp15, 14 miliar dengan keyakinan jika dalam waktu 1 kamar sesudah putusan pengadilan mempunyai kekuatan hukum tetap dan terdakwa tidak membayar uang pengganti
tersebut, harta bendanya disita dan dilelang untuk menutupi uang peng- substitusi dan jika tidak mempunyai harta benda yang cukup, diganti
dengan pidana penjara selama 3 tahun, ” tutur Muslim.

Putusan uang pengganti itu jauh lebih lembut daripada tuntutan jaksa KPK yang meminta agar Rahardjo membayar uang pengganti Rp60, 32 miliar.

Dalam wasit pembacaan vonis itu, terdakwa Rahardjo Pratjihno tidak hadir di pengadilan tipikor. Ia mengikuti sidang lantaran Gedung KPK, Jakarta, melalui video conference. Hanya ada jaksa KPK, majelis hakim, dan sebagian penasihat hukum yang bersidang di pengadilan.

Hakim menyatakan Rahardjo dan PT CMI Teknologi menikmati keuntungan sebesar Rp60, 329 miliar dan juga memperkaya karakter lain,
yaitu bekas staf khusus ( narasumber) bidang perencanaan dan keuangan Bakamla Ali Fahmi alias Fahmi Habsyi sebesar Rp3, 5 miliar.

Terhadap putusan tersebut, indah Rahardjo maupun jaksa KPK menyatakan masih akan mempertimbangkan melakukan banding. Kedua pihak mendapatkan waktu selama tujuh hari untuk melakukan jalan hukum banding. (Ant/P-5)