Para Ibu yang Mendadak Jadi Tutor

Para Ibu yang Mendadak Jadi Tutor

Pandemi merangsek ke segala lini. Masing-masing punya tantangan sendiri. Dari siswa, guru, praktisi, karyawan, ketua RT, penjual gorengan, hingga sepasang kekasih yang terbelah ruang dan waktu.

Pembatasan sosial diwajibkan untuk meminimalkan kemungkinan paparan covid-19. Barangkali itu adalah muasal buat segalanya sebisa mungkin dilakukan daripada rumah, termasuk belajar. Orangtua menjelma andalan untuk menjembatani antara tutor dan murid. Ibu harus menjadi sosok guru di mata anak. Dari situlah pernak-pernik cerita bermunculan dalam buku tajuk Guruku Momster, Sekolah Daring saat Pandemi dengan Bikin Pening.

Buku ini adalah rangka dari kisah 10 ibu yang mendampingi buah hatinya belajar sebab rumah. Mereka berasal dari berbagai latar belakang dan profesi. Rencana mereka semacam kehangatan yang erat bagi para ibu di seluruh penjuru yang masih berusaha berembuk dengan pandemi dan turunannya.

Dalam salah satu bagian, Talkactive Mom, Ramdania el Hida menceritakan pergulatannya sebagai ibu berlatar profesi jurnalis. Bersetuju tak mau, ia harus menjelma guru kelas 1 SD & PAUD kelas A untuk perut anaknya. Ia bercerita, pagi keadaan pukul 07. 00 WIB kudu setor absen dan anak kudu sudah salat Duha. Lalu menyampaikan materi yang sudah ditentukan.

‘Everyday, every morning. Rasanya mau menyerah. Keadaan ini saya bisa jadi kiai matematika, besok jadi guru gerak, guru tari, dan guru kritis seperti Mbak Bertha. Bah, seumur-umur saya tidak tahu gerakan dasar tari dan harus memberikan perumpamaan kepada anak agar dia mau mengerjakan tugas praktik Seni Kebiasaan dan Prakarya (SBdP)’ (hlm 51).

Apakah tantangannya hanya itu? Tidak. Sedang ada yang lebih berasa, yaitu saat anak-anak mulai ngambek. Dunia yang semula ber­gerak dalam keseimbangan tiba-tiba berguncang hebat. Ramdania menggambarkannya dengan kalimat bernas, rasanya ingin minum air gula segalon pada setiap habis mendampingi anak-anak belajar di rumah.

Selain cerita Ramdania yang menjadi ibu yang harus superbicara, sedang ada 9 cerita lain, bagaikan Toughtful Mom (Ruisa Khoiriyah), Observer Mom (Dwi Tupani), Strict Mom (Andina Merya­ni), Happy Mom (Fatya Alfarabi), Handy Mom (Kartika Runiasari), Impatient Mom (Dian Ariffahmi), Astute Mom (Vega Aulia), Teleport Mom (Rosdianah Dewi), dan Judicious Mom (Ratna Melisa). Semua cerita menonjolkan satu dari banyak dimensi keibuan.

Dalam Astute Mom, Rosdianah Dewi mengemukakan kisahnya sebagai ibu dari seorang anak. Vega juga sedang menduduki kelahiran anak kedua. Baginya, menyala dari rumah ternyata tidak membuatnya dan suami bisa lebih santai.

Catu sebagai pengajar mulanya diharap bisa membantu ketika Ia mendampingi anaknya sekolah di rumah. Ternyata tidak juga. Anaknya bukan tipe anak sekolah yang bisa duduk dengan hening dan mengerjakan tugas sampai sempurna. Selagi dipusingkan kerjaan sebagai tenaga pendidik yang mesti mencari jalan menyiasati kelas daring, ia serupa dipusingkan tugas sang anak.

Kala berhadapan dengan banyak kelindan tantangan, Rosdianah merasa tak ada pegangan. Rosdianah menyampaikan pesannya untuk Mas Gajah (Mendikbud Nadiem Makarim) di halaman 132-133. “Doakan saja kami tentu sehat, ya Mas Menteri, biar tetap mempunyai kekuatan untuk tetap berkarya di saat-saat yang sulit seperti sekarang ini, meski tanpa arahan yang bisa dijadikan pegangan yang kuat. ” (Zuq/M-4)