misionaris-eropa-diabadikan-jadi-nama-jalan-di-papua-1

Misionaris Eropa Diabadikan Jadi Tanda Jalan di Papua

Dapatkan promo member baru Pengeluaran SDY 2020 – 2021.

TUMENGGUNG Kabupaten Dogiyai, Yakobus Dumupa memutuskan mengabadikan nama sejumlah misionaris pada sejumlah buku jalan di Kabupaten Dogiyai, Papua. Selain nama sebesar misionaris dari benua Amerika dan Eropa yang lama bermisi di tanah Papua, termasuk Dogiyai, ada juga sejumlah tokoh lokal dengan berjasa dalam pertumbuhan serta perkembangan daerah, dan hendak diabadikan sebagai nama ustaz di wilayah Dogiyai.
 
“Para misionaris itu adalah Bruder Johannes Petrus Sjerps, OFM, Bruder Karel, OFM atau Uskup Pertama Keuskupan Agung Merauke, Pastor Herman Tillemans, MSC, dan lain-lain. Ada utama ruas juga kita abadikan dengan nama Jalan Thomas Tigi untuk menghormati dan mengenang Pak Thomas jadi bupati definitif pertama Dogiyai. Para misionaris dan aktivis lokal ini berjasa di dalam pertumbuhan dan perkembangan kebudayaan hidup orang Mee di Dogiyai, ” ujar Yakobus Dumupa dalam keterangan terekam, Jumat (26/3/2021).

Mantan Anggota Majelis Rakyat Papua itu mengatakan, umumnya di bervariasi daerah mengabadikan nama hidup di setiap sudut kotanya, pihak Pemerintah Kabupaten Dogiyai juga dalam waktu dekat akan melabelkan tokoh-tokoh berjasa sebagai nama semua buku jalan yang di provinsi Dogiyai.  

“Saya sudah memutuskan untuk memberi nama jalan dengan menggunakan tanda para tokoh setempat & orang-orang berjasa bagi kemajuan dan kemajuan daerah mematok saat ini. Misalnya Bruder Jan Sjerps, misionaris lantaran Eropa, ” lanjut Dumpua, lulusan Program Pascasarjana Sekolah Tinggi Pembangunan Masyarakat Dukuh (STPMD) APMD Yogyakarta.

Ia menjelaskan, yang dimaksud secara para tokoh lokal merupakan para pemimpin Gereja dan pemimpin atau tokoh klub, yang terbukti berjasa dalam memimpin umat dan umum sehingga masyarakat dan kawasan semakin maju, aman, tenang, dan sejahtera kemudian diteruskan para tokoh atau pemimpin sesudahnya.  

Para kepala itu tak hanya sebab luar Dogiyai namun serupa menyasar para pemimpin lokal dari berbagai komunitas di seluruh wilayah Dogiyai. Misalnya, Yobee Enabii di Ekaudidee, Tebai Togoodega di Mauwa, Goo Gaiyaikawii di Goodide, Boma Toyaikeboo di Edegedidee, dan lain sebagainya. Oleh karena itu, dalam rancangan merealisasikan kebijakan itu, Bupati Dumupa telah menugaskan Dewan Adat Mee Dogiyai untuk meneliti dan mempersiapkan nama-nama tokoh yang layak diberi nama jalan pada per wilayah.  

“Pemberian nama ini dimaksudkan agar masyarakat masyarakat Dogiyai mengenang pertolongan orang-orang hebat yang sudah berkontribusi dalam perkembangan perabadan hidup orang Dogiyai. Secara demikian, di kemudian kita bisa mengambil inspirasi serta teladan hidup dari itu untuk lebih giat berlaku memajukan masyarakat dan daerah lebih baik lagi, ” kata Bupati Dumupa, aktivis muda Papua yang sudah menulis kurang lebih sebelas buku beragam tema.

Sejumlah nama tokoh agama di Papua dan pemimpin lokal yang mengabdikan dirinya di Dogiyai sangat inspiratif dibanding aspek penghayatan karya urusan maupun kepemimpinannya bagi klub dan daerah. Misalnya, Bruder Jan Sjerps, OFM, Pastor Pastor Herman Tillemans, MSC atau Thomas Tigi.  

Bruder Jan Sjerps lumrah luas sebagai salah seorang misionaris perintis, pionir kopi Papua. Lama menunaikan perintah di sejumlah wilayah di tanah Papua, bruder daripada Saudara Dina atau Ordo Fratum Minorum (OFM) dengan lahir dari keluarga petani Belanda di dusun Zwagdijk-Oost, Distrik Wervershoof pada 2 November 1939 ini lalu ditugaskan di Moanemani, kota Kabupaten Dogiyai.  

Dalam Moanemani Bruder Jan Sjerps melanjutkan karya misinya dengan mendirikan sekolah dan pondok. Pilihan misi ke Moanemani oleh karena pertimbangan pada Agimuga dan Epouto, Kabupaten Mimika, tanah tidak cukup subur untuk umbi-umbian bertugas memberi makan siswa dengan dua sekolah paralel. Imbalan operasional di Epouto sungguh-sungguh mahal. Makanan selalu didatangkan dari luar, sedangkan di Moanemani dan Dogiyai umumnya sedikit lebih mudah.

“Saya pindahkan semua ke Moanemani dan di sana hamba memulai semuanya dari kausa lagi. membangun asrama & membangun sekolah lengkap dengan tangki air dan fasilitas lebih mudah, ” ujar Bruder Jan.  

Selain itu, usai mendirikan pondok dan sekolah tahun 1980, ia juga concern dalam pelatihan anak-anak SMP. Dia mulai dengan menanam 1000 pohon kopi sebagai percontohan dan latihan bagi para-para petani Moanemani. Bibit contoh diambil dari Yametadi, isyarat kantor Dinas Pertanian Pemerintahan Belanda era kolonial.

Berkat kegigihan Buder Jan melayani pembibitan kopi Papua pada belakang asrama hingga nama kopi Moanemani meroket dalam seantero tanah Papua serta Indonesia, tahun 1986 negeri daerah melirik usaha tersebut menetapkan Moanemani sebagai was-was pembibitan kopi.  

“Sejak itu, Moanemani terkenal secara kopinya yang memiliki fikrah rasa khas. Tahun 2005, setelah mengabdikan hidupnya untuk pendidikan dan kopi di wilayah lembah Kamuu, ia kembali ke Sentani, Jayapura, pusat misi OFM. Ia berpulang Sabtu, 13 Februari 2021 di Biara OFM, Sentani, Jayapura, ” sebutan Bupati Dumupa.  

baca juga:   MRP Papua Barat: Masyarakat Sah Minta Otsus Disetop 

Pada bagian lain, Dumupa membaca, saat ini Dewan Kebiasaan Mee Dogiyai sedang berjalan mempersiapkan nama-nama tokoh dengan berjasa bagi tanah Papua, termasuk berjasa di Dogiyai akan diabadikan sebagai tanda jalan. Jika rencana itu terwujud, ujarnya, akan menjadi sejarah baru di Negeri Papua dan juga dalam Indonesia nama-nama para atasan diabadikan untuk menjadi kebanggan daerah.  

“Saya percaya sebagai Bupati Dogiyai awak akan mengukir sejarah segar. Ini bentuk   kredit kecil kami kepada para penjasa dan pemimpin awak sekaligus menjadi bentuk apresiasi, penghormatan dan sumber pembelajaran bagi generasi tanah Papua berikutnya, ” ujar Bupati Dumupa, mantan misdinar (pelayan Misa) di Gereja Santa Maria Imaculata Moanemani, Dogiyai. (OL-3)