Meroketnya Gaji dan Tunjangan anggota DPRD DKI Dikritisi

Meroketnya Gaji dan Tunjangan anggota DPRD DKI Dikritisi

Bonus harian di Keluaran SGP 2020 – 2021.

NAIKNYA gaji dan tunjangan anggota DPRD DKI dikritisi sejumlah pihak. Pemprov dan DPRD DKI Jakarta menyepakati nilai KUA-PPAS untuk Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) 2021 sebesar Rp82, 5 triliun.

Dalam KUA-PPAS itu, terdapat kenaikan anggaran tuk Rencana Kerja Tahunan (RKT) DPRD DKI Jakarta yang mencapai Rp888. 681. 846. 000. Bila dibagi dengan 106 anggota DPRD DKI, maka total anggaran yang diajukan untuk tahun 2021 mencapai Rp8. 383. 791. 000 per awak DPRD.

Jumlah itu melonjak drastis dibandingkan APBD DKI 2020 yang sebatas Rp152. 329. 612. 000 per tahun. Salah satu pos anggaran yang membuat anggaran pegawai DPRD DKI 2021 melambung adalah meroketnya gaji dan tunjangan anggota DPRD.

Tahun ini, 101 anggota DPRD DKI Jakarta mendapatkan total gaji dan tunjangan sebesar Rp129 juta. Setelah dipotong pajak penghasilan (PPh) Rp18 juta, gaji bersih mereka mencapai Rp111 juta.

Sedangkan, dalam RKT DPRD DKI 2021, setiap anggota jadi mendapatkan gaji bulanan Rp173. 249. 250 sebelum dipotong pajak penghasilan (PPh).

Peneliti Forum Masyarakat Peduli Parlemen (Formappi) Lucius Karus, mengaku tak kaget dengan meroketnya anggaran DPRD dalam Dalam KUA-PPAS 2021. Dia mengatakan, kenaikan anggaran kegiatan DPRD memang bukan hal baru.

“Setiap pembicaraan anggaran di DPRD, isu kenaikan anggaran untuk DPRD selaku pembahas selalu muncul. Hal yang sama juga terjadi dalam pembahasan RAPBN di DPR, ” ujar Lucius, Minggu (29/9).

Namun, dia menambahkan, kenaikan anggaran untuk kegiatan DPRD di tengah pandemi merupakan sesuatu yang tak masuk akal. Harusnya kata dia, kelebihan anggaran itu dialokasikan untuk membantu rakyat yang kesulitan di tengah pandemi.

Lucius menduga ada semacam kompromi antara Pemprov serta DPRD DKi Jakarta dalam menjaga anggaran yang tak wajar.

“Pemprov nampaknya tak berdaya di hadapan DPRD demi dukungan politik setiap kebijakan pemprov, “ kata Lucius.

Hal senada diutarakan pengamat kebijakan publik dri Universitas Trisakti Trubus Rahadiansyah. Menurutnya, kenaikan anggaran DPRD itu tak tepat karena kondisi ekonomi saat ini sedang menurun akibat pandemi.

Trubus sepakat dengan Lucius. Ia menduga salah satu penyebabnya karena Pemprov DKI tidak transparan. Oleh karena tersebut, Trubus meminta Pemprov DKI Jakarta bersikap transparan terkait APBD 2021.

“Pemprov harus membuka diri, harus dijelaskan angka-angka (APBD) itu kepada öffentlich, ” kata dia.

Anggota DPRD Fraksi Demokrat, Neneng Hasanah menilai, data RKPD dan rancangan KUA-PPAS belum ditampilkan pada portal htts. apbd. jakarta. go. id.
Ketika ini, kata dia, warga DKI tak lagi bebas mengakses situs APBD DKI Jakarta. Sebab, Pemprov DKI Jakarta menerapkan sistem baru bernama Smart Budgeting di tautan smartapbddev. jakarta. go. id.

Sistem tersebut mewajibkan pengunjung situs untuk melakukan registrasi terlebih dahulu sebelum dapat mengakses laman anggaran pendapatan dan belanja daerah (APBD) DKI Jakarta. Adapun cara registrasinya yaitu oleh memasukkan Nomor Induk Kependudukan (NIK) dan nomor Kartu Keluarga (KK).

Sesuatu itu pun dikritik oleh Fraksi Partai Solidaritas Indonesia (PSI) DPRD DKI Jakarta. Anggota DPRD DKI Jakarta Fraksi PSI Eneng Malianasari mengatakan, Pemprov DKI telah merintangi hak warga Jakarta untuk mengawal dan mengawasi penggunaan uang rakyat. (OL-13)