lakukan-riset-sampah-laut-unpad-raih-hibah-aseano-2021-1

Lakukan Riset Sampah Laut, Unpad Raih Hibah ASEANO 2021

Dapatkan promo member baru Pengeluaran SDY 2020 – 2021.

TIM peneliti Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Padjadjaran meraih hibah riset dari program ASEANO Research Grant Competition 2021. Menyerahkan ini merupakan kompetisi riset bertema sampah laut (marine debris) yang digelar Center for Southeast Asian Studies (CSEAS) dan Norwegian Institute for Water Research (NIVA).

Dilansir dari laman Unpad, tim peneliti yang terlibat merupakan gabungan dari pengajar dan mahasiswa FPIK, yakni Noir Primadona Purba, Alexander, dan Ibnu Faizal. Penelitian juga melibatkan mahasiswa Program Studi Ilmu Kelautan berisi dari Amarif Abimanyu, Kemaal Sayyid, M Royhand Azkia A, Alfinna Yebelanti, Fiqih Abdul Jafar serta Raden Salsa Dewi K.

Noir dan tim berhasil meraih hibah senilai US$7. 500 atau setara dengan Rp107, 7 juta untuk order riset selama 3 kamar. Riset tersebut berfokus dalam kondisi sampah laut khususnya di kawasan ekosistem alas mangrove di daerah Muara Gembong, Kabupaten Bekasi, Jawa Barat.

Noir mengatakan, perlombaan hibah riset sebagai salah satu bagian implementasi ASEANO Project 2019-2022 terbilang kompetitif. Rencana riset yang diajukan Noir dan tim berhasil menyimpan 181 proposal yang mendalam.

“Melihat banyaknya proposal dengan masuk, para juri dengan berasal dari berbagai negeri termasuk Norwegia, dan jalan seleksi terlihat bahwa persaingan ini sangat menarik, ” kata Noir.

Berdasarkan pengamatan awal, jelasnya, ekosistem mangrove yang berada di Muara Gembong secara umum kondisinya cukup baik karena adanya perhatian pemerintah dalam mendukung kelestarian kawasan ini. Apalagi, di beberapa wilayah telah dijadikan sebagai wisata les.

Namun, di sisi asing, daerah yang menjadi mulut dari Sungai Citarum ini rentan akan pencemaran sampah. Sebabnya, sungai sudah menempuh perjalanan panjang dari hulunya dan melewati banyak kawasan maupun wilayah aktivitas pribadi.

Noir menuturkan, tim telah melakukan riset mengenai sampah laut sejak 2012. Awak menemukan bahwa kawasan hutan mangrove maupun ekosistem pantai lainnya masih belum banyak dilakukan penelitian mengenai sampah laut.

Dari beberapa stasiun pengamatan seperti di Tanah Untung Jawa, Pulau Beriang, dan Kupang, ditemukan fakta bahwa sampah mikro serta makro berada di deposit hutan mangrove.

“Padahal hutan mangrove tempat berbagai biota hidup dan fungsinya betul penting dalam ekologi, ” kata Noir.

Penelaahan sampah
Tak hanya menemukan titik sampah, tim juga mencoba menggambarkan perjalanan sampah di muara sungai menggunakan alat yang dikembangkan sendiri, yaitu Sea-Ghost II. Alat teroka itu sudah dilengkapi dengan GPS sehingga dapat memberikan keterangan lokasi.

Perihal alat itu Noir menjelaskan, Sea-Ghost II memiliki kelebihan dapat menyelaraskan dengan berat ukuran kotor yang ingin dipetakan. “Pada akhirnya kami ingin menyidik interaksi antara sampah laut, seperti botol dan kotor lainnya terhadap biota dengan ada di hutan mangrove, ” sambungnya.

Melalui menyumbangkan ini, tim menawarkan perubahan penelusuran (tracking) sampah dengan alat yang dikembangkan sendiri. Selain itu, tim juga mengembangkan simulasi pemodelan kotor serta melakukan riset terkait hubungan biota dengan sampah.

Diharapkan, Noir dan awak dapat memberikan data terkini mengenai kondisi sebaran sampah plastik di muara sungai, utamanya di wilayah Mulut Gembong. Data yang diperoleh diharapkan dapat memotivasi pengelola kepentingan untuk menganalisis & merumuskan kembali kebijakan yang ada.

“Apakah kebijakan perlu dimutakhirkan atau ditinjau dengan langkah-langkah yang paling tepat, ” tuturnya.

Sebelumnya, awak Unpad juga berhasil memperoleh dana hibah internasional lainnya, yaitu dana hibah kegiatan sama dengan Edinburgh University untuk permodelan sampah bahar di 2019, serta dana hibah dari DDRG-LIPI-Bank Negeri untuk penelitian sampah laut di perairan Sewu, Nusa Tenggara Timur. (H-2)