Kenali Pelanggaran yang Kerap Terjadi dalam Pasar Modal

Kenali Pelanggaran yang Kerap Terjadi dalam Pasar Modal

KESIBUKAN di pasar modal tidak jatuh dari adanya pelanggaran di dalamnya. Meskipun bukan masuk kategori pembicaraan ilegal, tapi ada hal dengan dapat menimbulkan kerugian karena berlaku pelanggaran.

Kepala Departemen Pengawasan Pasar Pangkal 1A OJK Luthfy Zain Fuady mengatakan, banyak sekali pelanggaran berlaku di pasar modal Indonesia makin ada yang sampai menimbulkan kemalangan. Jika berbicara kerugian di rekan modal tidak jauh berbeda dengan investasi ilegal atau bodong.

“Malah kalau dari filosofinya itu lebih biadab, karena dia sudah punya permisi tapi dia lakukan pelanggaran & menimbulkan kerugian bagi para objek. Ini dosanya mungkin bisa berlipat ya, ” ujar Luthfy pada acara Seminar Capital Market Summit And Expo 2020, Kamis (22/10).

Luthfy menjelaskan, jika dipetakan ada empat kelompok besar pelanggaran yang biasanya dilakukan oleh perusahaan efek jadi lembaga intermediasi, manajer investasi, daripada sisi emiten atau perusahaan publik dan dari sisi supply profesi ataupun lembaga penunjang.

Dari segi perusahaan buntut, pertama adalah perdagangan semu, dimana perusahaan efek menciptakan suatu nilai yang tidak sepenuhnya itu dilahirkan dari kekuatan jual dan kulak efek di pasar. Harga saham dikerek turun atau naik dan itu modus yang sering terlihat dalam perdagangan di bursa.

“Ada akal pasar juga di sana. Lalu, kita menemukan juga beberapa peristiwa di mana walaupun mereka telah fit and proper , banyak pelanggaran yang dikerjakan oleh para direksi. Ini beberapa kasus yang pernah kita bersahaja, ” tuturnya.

Selanjutnya, dari sisi organisator investasi, seperti adanya janji fixed return untuk reksa dana. Menurutnya, ada reksa dana yamg dilarang memberikan janji investasi yang berkelakuan ketat, tetapi pihaknya menemukan ada kasus reksa dana dari manajer investasinya menjanjikan suatu return tetap pada pemegang reksa dana.

“Ini jelas-jelas pelanggaran dari regulasi. Kenapa reksa dana enggak boleh menjanjikan return yang bersifat tetap? Karena reksa dana itu berinvestasi pada nilai yang setiap harinya bergerak, berubah, sehingga tidak mungkin memberikan janji dengan sifatnya fixed return , setiap minggu, setiap keadaan atau bulan, ” kata Luthfy.

Lalu, dari sisi emiten yang menyimpan efek. Dari temuan yang memutar sering didapatkan OJK adalah kurang patuhnya emiten dalam melakukan asas disclosure. Luthfy menyebut disclosure adalah situasi yang sifatnya mutlak di pasar modal karena orang berbelanja efek itu berbasis informasi.

“Sehingga keterbukaan fakta itu menjadi mutlak adanya. Kesenjangan penguasa investasi di pasmod tentu bisa menyebabkan terjadinya perilaku yang merugikan orang lain, ” tuturnya.

Kemudian, dari sisi profesi penunjang tersebut. Profesi penunjang menurutnya tidak cuma tunduk pada regulasi yang tersedia di OJK, karena mereka serupa punya Undang-Undang sendiri. Adapun dalam beberapa kasus uang ditemukan ada pelanggaran yang kemudian berkaitan secara emiten, seperti kesalahan saji petunjuk keuangan contohnya.

“Di sana mau tak mau, atau hampir dapat dipastikan ada relasinya, keterkaitannya dengan pekerjaan akuntan publik. Entah karena ketidakcermatan dalam melaksanakan standar profesinya atau ada unsur kesengajaan di danau. Ini yang sering kali kita temukan, ” pungkas Luthfy. (E-1)