Kemitraan Pertamina, Bantu Usaha Mikro dan Kecil Ditengah Pandemi

Kemitraan Pertamina, Bantu Usaha Mikro dan Kecil Ditengah Pandemi

TERTATIH, itulah yang dirasakan jalan kecil dan mikro (UKM) ditengah pandemi virus korona baru (Covid-19). Tidak sedikit, usaha mikro dan kecil yang gulung tikar. Karenanya tidak hanya dituntut untuk bisa bertahan di saat pandemi Covid-19 melanda Tanah Air, namun serupa harus bisa lebih berinovasi di mengembangkan usaha dan bisnis dengan digeluti.

Inovasi pemikiran terhadap orientasi usaha menjadi hal penting, dan tak kalah pentingnya tentu mengenai kucuran modal. Banyak pengusaha atau pengrajin yang terjebak harus berurusan secara rentenir ataupun pinjaman bank yang bunganya cukup tinggi.

Inilah yang mendirikan para pelaku usaha mikro & kecil, maju mundur dalam membela dan mengembangkan usahanya. Sebagai jalan membantu para pelaku usaha dengan terseok-seok dalam mengembangkan rintisan usahanya, Pertamina menggencarkan program kemitraan serta program bina lingkungan BUMN.

Wibowo Supriyadi (47 tahun), owner UKM Luhur Lele di Palembang, mengaku, pandemi sangat berdampak terhadap usaha penanaman lele miliknya yang sudah berjalan selama 23 tahun ini. Bukan hanya kesulitan dalam pemasaran, namunmemang sejak pandemi terjadi, pelanggan sudah banyak yang berlari.

‘’Pandemi ini betul kami rasakan. Sejak 23 tarikh lalu, baru di masa pandemic ini kami benar-benar jatuh. Konsumen selama ini, sudah tidak lagi mengambil ikan lele dari penerapan kami. Kami benar-benar terpuruk, ’’ jelas Wibowo.

Dijelaskan Wibowo, biasanya perhari pihaknya bisa menjual ikan lele diatas 40 kilogram. Namun semenjak pandemi pendapatan pun sangat runtuh, hanya bisa menjual dibawah 15 kilogram perharinya.

Baca juga: Ketua Badan Komisaris OJK: Ekosistem Syariah Harus Teritegrasi

Diketahui Wibowo memiliki beberapa kolam produksi lele dibelakang rumahnya. Dimasing-masing kolam, sudah terbagi dengan waring atau jaring pembatasikan lele dengan jumlahnya ada puluhan waring.

Meski menjelma kebutuhan pangan, namun nyatanya, selama pandemi cukup banyak lele yang tidak terjual. Bahkan harga berniaga pun jatuh.

Efeknya, pendapatannya pun terseok-seok untuk memenuhi kebutuhan hidup keluarganya dan 3 orang karyawannya. Suami Dewi Handayani itupun mengaku, adanya kucuran dari berbagai pihak tertib berupa bantuan benih, bantuan pangan ternak lele, hingga modal cara menjadi berkah tersendiri baginya.

Apalagi setelah Pertamina menggandengnya sebagai mitra, pas membantu Wibowo mengembangkan usahanya. Pertamina mendukung usahanya melalui pemberian baka ikan, dan modal usaha mencuaikan program kemitraan dan binalingkungan.

‘’Yang menyesatkan membantu kami itu adalah pinjaman modal dari Pertamina. Banyak keuntungan yang kami dapat. Alhamdulillah, imbasnya usaha kami tetap berjalan serta bertahan ditengah pandemi ini, ’’ ujar dia.

Dijelaskan Wibowo, dirinya mengajukan pinjaman sebesar Rp100 juta untuk 3 tahun, meski sebenarnya dia ditawari untuk mengambil kredit dengan plafon Rp200 juta. Kelebihannya, cakap dia, mengajukan pinjaman dengan Pertaminaini tidak ribet seperti dirinya meminjam di bank umum lainnya.

‘Prosesnya biar cepat, kami pinjam Rp100 juta tanpa syarat yang ribet. Sebelumnya kami pernah pinjam di bank umum, tapi bunga nya lulus besar meski KUR. Bukan hanya itu, prosesnya pun panjang serta syarat yang disertakan cukup berbelit, ’’ jelasnya.

Baca juga: Penjualan Mobil Tetap Naik Saat Pandemi

Melalui agenda kemitraan itu juga, cicilan yang harus dibayar tiap bulannya tak begitu besar. Lantaran bunganya cuma sekitar 3 persen menurun dibanding saldo pinjaman awal tahun. ‘’Dengan pinjaman dari Pertamina ini, ana merasa tidak tercekik, ’’ jelasnya.

Bukan hanya itu, dengan jalinan kemitraan itu, Wibowo pun mendapat pelatihan-pelatihan terkait budidaya ikan miliknya. Pelatihannya pun tidakberbiaya, dan memberikannya pengetahuan dalam mengembangkan usahanya.

‘’Pembekalan ilmu dibanding pelatihan yang diberikan oleh Pertamina ini sangat bermanfaat bagi saya. Karena memang budi daya ikan lele ini susah-susah gampang, dan memiliki resiko besar jika kubra panen ikan, ’’ jelasnya.

Pinjaman modal yang diberikan Pertamina pun digunakan oleh Wibowo untuk membangun jalan baru yakni usaha kuliner pecel lele. Selama ini tidak terpikir olehnya untuk membuka usaha kuliner sendiri.

‘’Bantuan modal dari Pertamina, kami putar untuk membuka usaha kuliner di pinggir jalan. Setidaknya usaha ini membantu pemasukan untuk saya meski pandemi masih terjadi maka saat ini, ’’ terang ayah dari 2 anak itu.

Sementara tersebut, Derici Wasikem (57 tahun), pemilik UKM Kerajinan Rici Handbags dalam Musi Rawas, mengaku, pandemi Covid-19 juga membuat usahanya mengalami penurunan omset yang sangat tajam. Hal itu lantaran usaha kerajinan tas anyam bambu miliknya kesulitan di dalam pemasaran.

‘’Biasanya kita banyak pemasukan dan produksi melimpah, jika kita mengikuti pameran-pameran kerajinan di luar Sumsel. Tapi pandemi ini membuat kita sulit untuk mencari pangsa pasar baru, ’’ jelasnya.

Itu pula dengan membuatnya harus memaksimalkan usaha meniti media sosial. Namun tidak berdampak besar.

‘’Kerajinan tas kita ini biasanya kita kirim juga ke sungguh negeri, tapi sebelumnya tentu kita ikut pameran dulu. Sekarang sulitnya akses keluar kota pun berpengaruh pada omset kita yang mendarat. Biasanya rata-rata omset kami kira-kira Rp20-25 juta per bulan, ’’ jelasnya.

Usaha UKM yang terletak dalam Kecamatan Purwodadi, Musi Rawas tersebut menjual berbagai macam tas kepangan dari bambu. Mulai dompet, had tas wanita. Bahkan selama Covid-19, pihaknya pun mulai mengolah anyaman bambu menjadi peralatan dapur, laksana keranjang makanan, piring dari anyaman bambu dan sebagainya.

‘’Pangsa pasar kita setidaknya saat ini hanya di area Sumsel dan sejumlahkota gembung di Indonesia. Itupun untuk pemasaran ecer bukan grosir, beda secara sebelum pandemi, biasanya banyak dengan pesan secara partai besar, ’’ jelasnya.

Kondisi ini pula yang membuatnya harus bisa mendapatkan modal bunga. Dengan adanya program kemitraan dari Pertamina membuatnya dapat bernafas senang. Ia pun mengajukan pinjaman pengaruh sebesar Rp150 juta untuk sanggup mengembangkan usaha miliknya.

‘’Kita kan kemaluan modal untuk bahan baku, & membayar para ibu rumah nikah yang membantu dalam produksi produk anyaman kita. Karena itu, ana pun sepakat mengambil pinjaman pada Pertamina yang memang lebih kecil jika dibanding bank, ’’ jelasnya.

Peraih Local Hero Pertamina 2020 tersebut pun bukan hanya mendapat pangkal pinjaman, melainkan juga pelatihan serta fasilitas pameran. Dengan pinjaman pangkal itu, ujar Derici, dimanfaatkannya buat pembelian mesin, alat kerja, & lainnya.

‘’Dari pinjaman yang kami sanggup, sebagian sudah terpakai. Kami bersyukur dengan pinjaman dari program kemitraan ini bisa didapat dengan proses yang cepat dan tidak ada potongan. Ini jelas beda bila kami pinjam di bank, ’’ jelas Derici.

Baca juga: BKPM: Pokok Kelola UMKM, Ekonomi RI Bisa Tumbuh 4%

Sementara itu, Region Manager, Communication, Relation, and CSR Sumbagsel Dewi Sri Utami mengatakan, program kemitraan dan program bina lingkungan BUMN di wilayah Sumbagsel cukup berjalan lancar. Sebab pihaknya situ gencar mensosialisasikan kepada para pelaku usaha untuk bergabung dengan program kemitraan tersebut.

‘’Kami selalu melakukan bervariasi upaya untuk membantu mitra binaannya kembali bangkit selama pandemi. Serta memang kami secara aktif memberikan pembinaan kepada mitra untuk melaksanakan inovasi dalam perubahan bisnis supaya tetap berjalan selama masa pandemi ini, ’’ kata Dewi.

Pertamina berniat dengan adanya program kemitraan & program bina lingkungan BUMN tersebut dapat menjadi penggerak roda perekonomian masyarakat dimasa adaptasi kebiasaan anyar, dengan tujuan akhir menjadi pengusaha mandiri.

‘’Untuk di wilayah Sumsel, telah cukup banyak yang bantuan kemitraan yang dikucurkan. Ada sekitar Rp770 juta hingga Agustus 2020 ini. Sementara untuk di wilayah Sumbagsel, kita sudah kucurkan sekitar Rp19, 9 miliar, ’’ jelas Dewi.

Dijelaskan Dewi, dalam program tersebut, para-para pelaku UKM tentunya akan mendapat banyak kemudahan dan manfaat. Namun tentunya ada berbagai criteria calon mitra binaan yang harus dipenuhi, diantaranya berdiri sendiri, perseorangan/badan jalan, aset bersih maksimal Rp500 juta, omset maksimal Rp2, 5 miliar, WNI, memiliki potensi atau peluang yang bisa dikembangkan, kegiatan daya minimal 6 bulan dan non bankable.

‘’Menariknya, dengan program ini, para-para pelaku usaha bisa mendapatkan pinjaman hingga Rp200 juta. Jasa administrasi pinjaman ditetapkan satu kali dalam saat pemberian pinjaman yakni sebesar 3 persen per tahun menyusut dari saldo pinjaman awal tahun, ’’ jelasnya.

Dalam program ini, Pertamina memberikan pinjaman untuk berbagai daya diantaranya peternakan, perikanan, industri, perdagangan, jasa, perkebunan dan pertanian. Modus yang dilakukan Pertamina ini sebagai bentuk upayauntuk memberikan pelayanan pada seluruh negeri dengan sepenuh miring. (OL-2)