Kementan Dukung Pengendalian Hama yang Ramah Lingkungan

Kementan Dukung Pengendalian Hama yang Ramah Lingkungan

Organisme Bisul Tumbuhan (OPT) atau yang bertambah dikenal masyarakat dengan hama/penyakit dalam tanaman komoditas selalu menjadi bahaya setiap tahunnya pada setiap barang pertanaman. Berbagai upaya terus dikerjakan baik oleh petani, dinas pertanian, dan juga Kementerian Pertanian untuk mengendalikan populasi OPT agar tidak mengganggu atau merusak produksi bertabur nasional.

Tidak hanya melalui penggunaan racun hama, namun kini langkah-langkah yang lebih bersifat ramah lingkungan. Semisal pengoperasian hama tikus menggunakan musuh alaminya yaitu burung hantu, pemanfaatan flora refugia untuk menarik musuh wajar hama di sekitar lahan sawah, penggunaan pestisida dari bahan nabati, dan juga pegembangan agens hayati untuk kebutuhan pengendalian populasi OPT di pertanaman.

Lilik Retnowati, Kepala Subdirektorat Data dan Kelembagaan Pengendalian OPT, Kementerian Pertanian mengungkapkan bahwa pemanfaatan agens hayati terus meningkat di kalangan petani untuk pengendalian OPT di pertanaman. “Pemanfaatan agens hayati seperti Beauveria bassiana, Metarhizium anisopliae, Trichoderma spp., Paenibacillus polymyxa, & lain sebagainya kini bekembang betul pesat, ” ujarnya.

Pengembangan dan pergandaan agens hayati kini selain dilakukan oleh Laboratorium Pengamatan Hama Penyakit Tumbuhan (LPHP) yang tersebar pada 32 provinsi juga dilakukan sebab Pos Pelayanan Agens Hayati (PPAH) di level kelompok tani dengan tersebar hampir di setiap daerah di bawah bimbingan Balai Perlindungan /Perlindungan Tanaman Pangan dan Hortikultura serta dinas pertanian setempat. “Biasanya kelompok tani akan langsung menggunakan agens hayati yang mereka buat di lahan sawah atau pertanaman garapan mereka sendiri, ” kata Lilik.

Di tempat terpisah, Kepala UPTD Balai Proteksi Tanaman Pangan dan Hortikultura Provinsi Lampung Bagiyo Warsito menambahkan, bahwa Provinsi Lampung turut menjadi salah satu daerah dengan giat mengembangkan agens hayati buat membantu petani dalam pengendalian OPT di pertanamannya. “Perbanyakan agens hayati selain dilakukan oleh LPHP saya di Trimurjo, Semuli Raya, serta Gading Rejo, tetapi juga dikerjakan oleh PPAH binaan kami sebanyak 29 unit yang tersebar dalam kabupaten-kabupaten di provinsi Lampung, ” sebutnya.

Pihaknya mengembangkan agens hayati semacam Metarhizium anisopliae untuk penanganan kuman wereng pada padi, Trichoderma spp.   untuk penanganan penyakit Melamun pada padi, Paenibacillus polymyxa untuk penanganan penyakit BLB/Kresek pada padi dan penyakit bulai pada tanaman jagung, dan juga pengembangan agens hayati lainnya.

Direktur Perlindungan Tanaman Pangan Kementerian Pertanian, Edy Purnawan menerima baik pesatnya minat petani di pemanfaatan agens hayati sebagai solusi ramah lingkungan dalam pengendalian kuman. “Banyak daerah yang telah saya coba melalui program perbanyakan serta pemanfaatan agens hayati serta penanaman tanaman sehat untuk mengedukasi petani mengenai penerapan pengendalian hama terpadu (PPHT) dan terbukti bahwa panennya pun tidak kalah memuaskannya secara budidaya yang masih menggunakan racun hama kimiawi. Pendekatan ramah lingkungan dengan berkelanjutan inilah yang akan saya terus dorong untuk dilakukan bertambah banyak lagi, ” jelas Edy.

“Hal ini selaras dengan pesan Abu Dirjen Tanaman Pangan, Suwandi kaum waktu yang lalu. Bahwa pihaknya terus-menerus mendorong dan mendukung praktik-praktik kegiatan pengendalian Organisme Pengganggu Tumbuhan (OPT) berbasis alami dengan memakai agens hayati sebagai bahan pengendaliannya, ” sambung Edy.

Edy menegaskan secara semakin meningkatnya kesadaran petani terhadap pentingnya budidaya tanaman sehat menetapkan keberlanjutan pertanian, diharapkan juga kesejahteraan petani turut meningkat karenanya. Dengan demikian, hal ini turut menjunjung percepatan terwujudnya pertanian maju, mandiri dan modern.

“Hal ini, sesuai titah Mentan SYL produksi pangan kudu jalan terus tetapi hal-hal dengan dapat meningkatkan kesejahteraan petani serupa harus dilakukan karena mereka ujung tombak ketahanan pangan negara kita, ” tegasnya. (RO/OL-10)