ernest-douwes-dekker-nasionalis-indo-yang-menolak-tunduk-1

Ernest Douwes Dekker, Nasionalis Indo yang Menolak Tunduk

Dapatkan promo member baru Pengeluaran HK 2020 – 2021.

TERLAHIR sebagai warga peranakan tidak penghalang menjadi seorang nasionalis. Contohnya Ernest François Eugène Douwes Dekker (lebih dikenal sebagai Douwes Dekker ataupun Danudirja Setiabudi), pahlawan nasional keturunan Indo-Eropa (Indis). Dalam tubuhnya mengalir darah Belanda, Prancis, Jerman, dan Jawa, tapi semangat nasionalismenya sejenis menggelora melebihi sebagian bumiputra. Pemerintah kolonial Belanda memberinya cap berbahaya, pembuat keributan yang anti-Belanda.

Menurut Margono Djojohadikoesoemo, Douwes Dekker adalah salah seorang Indo yang menentang penggunaan istilah inlander bagi pribumi. Inlander bermanfaat budak atau warga bagian rendah. Dalam sebuah pidato, ia mempertanyakan hukum kolonial yang diskriminatif terhadap keluarga pribumi.

“Mengapa menurut peraturan itu saya dimasukkan dalam golongan Eropa, hanya sebab saya bernama Douwes Dekker? Tetapi saya dilahirkan disini, mendapat sesuap nasi disini, dan juga tidak tersedia yang lebih saya senangi selain dikubur di sini, di bawah pohon palem, ” ujar Douwes Dekker, sebagaimana dikutip dalam sendi EFE Douwes Dekker  (1975).

Pertimbangan pertamanya terhadap Belanda terekam di sebuah tulisan berjudul Cara Bagaimana Belanda Paling Cepat Kematian Tanah Jajahannya? yang dimuat dalam Nieuwe Arnhemsche Courant pada 1908. Dia mengingatkan pemerintah kolonial agar memerhatikan penderitaan anak buah, ketidakadilan sosial, diskriminasi suku bangsa, penyelewengan kekuasan, dan nasib yang diterima golongan Indo.

Douwes Dekker juga menguliahi Nederland dengan mengatakan kalau yang perlu diberikan kepada Hindia Belanda adalah sah pemerintahan sendiri bagi warga Hindia. Hanya penduduk Hindia yang paling tahu barang apa yang dibutuhan dan menetapkan dilakukan.

Karena itu, dialah yang pertama kali menyerukan semboyan Indie los van Holland (Indonesia lepas sejak negeri Belanda). Ia pula yang mengajak kaum Indo-Eropa untuk tidak lagi menyuarakan diri sebagai orang Eropa. “Ik ben Indisch, Ik ben Indonesier! Aku seorang Indo, aku bangsa Indonesia, ” seru Douwes Dekker.

Jiwa patriotismenya ini melanjutkan semangat seorang pengeritik kolonialisme Belanda yang terkenal, Edward Douwes Dekker alias Multatuli, pengarang buku Max Havelaar . Multatuli memiliki pertalian keluarga secara Ernest Douwes Dekker sebagai adik dari kakeknya.

Ernest Douwes Dekker lahir pada Pasuruan, Jawa Timur, 8 Oktober 1879. Ayahnya, Auguste Douwes Dekker keturunan kreol (Eropa murni). Sementara ibunya, Louisa Margaretha Neumann, berbakat Jerman-Jawa. Politik kolonial menyerahkan previles bagi kaum Indis untuk mengidentikkan diri sebagai golongan Belanda yang secara hierarki berada di atas golongan lainnya. Akan namun, ia lebih memilih tumbuh dan mati untuk Indonesia yang kala itu sedang bernama Hindia Belanda.

Makna untuk ‘menjadi Indonesia’ sungguh harus dibayar mahal Douwes Dekker. Dia berulangkali ditangkap, dipenjarakan, disiksa, dan diasingkan di dalam dan luar jati. Namun, panggilan Ibu Bumi selalu saja membuatnya berjuang mencari jalan untuk kembali ke Tanah Air.

Di hadapkan pada berbagai bentuk diskriminasi kolonial Belanda, bagus terhadap golongan pribumi maupun Indo, ia mengobarkan spirit kemajuan dan persatuan elok bagi kaum pribumi maupun keturunan. Pada awal 1900-an, rumah Douwes Dekker yang terletak di dekat sekolah STOVIA menjadi tempat berkumpul para perintis gerakan kebangunan nasional Indonesia, seperti Tjipto Mangoenkoesoemo dan Soetomo, untuk belajar dan berdiskusi. Ia juga salah seorang yang membantu kelahiran Budi Utomo, bahkan menghadiri kongres pertamanya di Yogyakarta.

Selanjutnya, karena kecewa pada Budi Utomo yang didominasi kaum priyayi dan terlalu moderat, dia bersama Tjipto Mangoenkoesoemo dan Ki Hadjar Dewantara yang kemudian dikenal sebagai 3 Serangkai, mendirikan partai politik modern pertama di Nusantara; lndische Partij. Melalui partai ini, ia tampil sebagai inspirator revolusi. Tur propagandanya menginspirasi Tjokroaminoto dalam menyekat massa. Bung Karno, bahkan pernah menyebut dirinya mencari kepada Douwes Dekker mengenai gagasan revolusi Indonesia.

Setelah Indonesia merdeka, Ernest Douwes Dekker atau biasa dipanggil ‘Nest’, mengganti namanya menjelma Danudirja Setiabudi. Nama tersebut merupakan pemberian dari Bung Karno. Kata Danu berarti benteng, Dirja artinya kuat dan tangguh, sedangkan prawacana Setiabudi artinya berbudi setia. Selama masa pergerakan kebebasan, Dr Danudirja Setiabudi bertambah akrap dipanggil dengan julukan DD, yang merupakan kelanjutan Douwes Dekker. Namun sesudah Soekarno mengganti namanya tersebut, panggilan DD ini dikenal dengan singkatan dari Danu Dirja.

Perintis parpol modern 

Partai politik (parpol) yang mula-mula berdiri dari rahim bumi Nusantara pada dasawarsa kedua abad ke-20 adalah Sarekat Agama islam dan Indische Partij. Sama-sama berdiri pada 1912; Sarekat Islam dipimpin HOS Tjokroaminoto dan kawan-kawan, sedangkan Indische Partij didirikan oleh 3 serangkai yaitu Ernest Douwes Dekker, Tjipto Mangoenkoesoemo, & Soewardi Soerjaningrat/Ki Hadjar Dewantara.

Berbeda dengan Sarekat Agama islam yang tidak secara terang menyebutnya parpol, Indische Partij sejak awal mendeklarasikan dirinya sebagai parpol. Kelahirannya berdasar pandangan nasionalisme Douwes Dekker yang menekankan persatuan dan kesatuan di antara segenap rakyat Hindia untuk menyentuh kemerdekaan. Keyakinannya itu dikemukakan dalam pidatonya di pada rapat Indische Bond (suatu perkumpulan bangsa Eropa dengan bertujuan untuk memperhatikan kadar bangsa Indo) pada 12 Desember 1911 di Jakarta.

Douwes Dekker mengatakan, kaum Indo sangat sedikit, sehingga tidak mungkin memperoleh kemajuan apabila hanya bertindak seorang diri. Salah satu syarat buat mendapatkan kemenangan di pada pertentangan dengan penjajah Belanda adalah dengan menggabungkan muncul kepada bangsa Indonesia, serta berjuang bersama-sama mereka secara membentuk suatu partai kebijakan. Dari sini lahir Indische Partij yang didirikan di Bandung pada 25 Desember 1912.

Berdirinya Indische Partij ini sekaligus menandai berakhirnya masa organisasi kedaerahan, serta munculnya organisasi politik baru berpaham kebangsaan yang dikenal Indishce nationalism dengan tak membedakan keturunan, suku marga, agama, dan kebudayaan. Pokok, cita-cita Indische Partij memang ingin menyatukan semua kelompok yang ada di Nusantara, baik golongan Indonesia asli maupun golongan Indo, Cina, Arab, dan sebagainya.

Pada 25 Desember 1912, Douwes Dekker mengajukan permohonan kepada Pemerintah Hindia Belanda supaya Indische Partij mendapat pengesahan sebagai parpol, tetapi ditolak. Bahkan hingga tiga kali pengajuan, Douwes Dekker lestari ditolak. Alasan penolakan karena organisasi ini dapat membangkitkan rasa nasionalisme rakyat, dan dianggap melanggar peraturan urusan 111 Regerings-Reglement (RR) yang berbunyi: “Bahwa perkumpulan-perkumpulan atau persidangan-persidangan yang membicarakan perkara pemerintahan (politik) atau membahayakan keamanan umum dilarang di Hindia Belanda”.

Meski ditolak, Douwes Dekker bersama arsitek tiga serangkai lainnya tentu melakukan tur propaganda putaran Jawa mengenalkan Indische Partij sekaligus memberikan penyadaran berpolitik bagi rakyat. Atas propagandanya itu, tindak-tanduk ketiga tokoh pendiri Indische Partij tetap diawasi pemerintah kolonial.

Tindakan-tindakan ini bermula pada 21–23 Maret 1913, ketika Suwardi Suryaningrat melancarkan kritik terhadap rencana 100 tahun perjamuan kemerdekaan Belanda dari penjajahan Perancis yang secara ironis hendak menarik uang lantaran rakyat jajahan (bangsa Indonesia) untuk membiayai pesta perayaan tersebut.  

Kritik Soewardi dikemukakan melalui tulisannya dalam harian De Express milik Douwes Dekker yang ternama berjudul Als Ik Eens Nederlander Was (Seandainya Awak Seorang Belanda) dan Een voor Allen maar Ook Allen voor Een (Satu untuk Semua, tetapi Seluruh untuk Satu Juga).

Pertimbangan Soewardi itu berbuntut interpretasi dirinya. Ia dibuang ke Pulau Bangka. Tokoh 3 serangkai lainnya, dr Tjipto Mangoenkoesoemo, berusaha membelanya dengan menulis di majalah Indische Partij yang bernama Het Tijdschift dan De Express , secara judul Kekuatan atau Ketakutan. Setelah tulisan Tjipto Mangoenkoesoemo tersebut beredar di majalah dan juga di harian itu, tidak lama kemudian Tjipto juga ditangkap dan diasingkan ke Pulau Banda.

Sementara itu, Douwes Dekker yang notabenya orang terdekat keduanya sangat terpukul pada ditangkapnya kedua tokoh Indische Partij tersebut. Dengan kasar dan lantang Douwes Dekker mengkritisi pemerintah Belanda dalam tulisannya yang berjudul Onze Helden: Tjipto Mangoenkoesoemo en Soewardi Soerjaningrat (Pahlawan kita: Tjipto Mangoenkoesoemo dan Soewardi Soerjaningrat. Karena tulisan tersebut pula Douwes Dekker ikut ditangkap dan diasingkan ke Nusa Tenggara Barat.

Sesudah tiga serangkai diasingkan, Indische Partij pun dibubarkan Belanda. Namun, di usianya dengan singkat itu, Indische Partij meniupkan napas panjang bagi aksi pergerakan setelah itu. Pasca-Indische Partij dibubarkan, malah memicu lahirnya partai-partai politik baru, antara lain Indische Social Democratische Vereniging (ISDV), Partai Nasional Indonesia (PNI), Partai Indonesia, Partai Nusantara Raya (Parindra), Patai Serekat Islam (PSI), Partai Katolik, dan lain-lain.

Dibanding pengasingan ke pengasingan

Setelah mengenyam pendidikan di Hoogere Burger Scholl Batavia pada 1897, Douwes Dekker memulai karier sebagai seorang pegawai pada perkebunan jiplakan Sumber Duren di bermalas-malasan Gunung Semeru. Realitas memakai kolonial memantik hatinya untuk memihak kaum pribumi yang dirugikan bahkan tertindas secara sistem yang diterapkan. Douwes Dekker terpaksa harus diberhentikan dari pekerjaannya.

Pun demikian ketika ia pindah kegiatan menjadi seorang ahli kimia di pabrik gula Pajarakan, Probolinggo. Pembagian air tali air yang tak adil & merata bagi penduduk cukup untuk memantapkan hatinya, ia memilih mengundurkan diri. Tak lama setelah itu, dia memutuskan untuk merantau ke luar negeri. Selama di perantauannya di Afrika, Douwes Dekker sempat terlibat di dalam Perang Boer melawan Inggris 1899. Karena kalah konflik, ia tertangkap lalu dipenjara di suatu kamp dalam Ceylon.

Di sana dia mulai berkenalan dengan sastra India, dan perlahan-lahan pemikirannya mulai terbuka akan perlakuan tidak adil pemerintah kolonial Hindia Belanda terhadap warganya. Pada 1902, ia kembali ke Hindia Belanda guna merintis karier di bagian jurnalisme dan politik.

Jadi penulis, wartawan, aktivis kebijakan, dan pendidik yang gemuruh menentang kolonialisme, Douwes Dekker berulangkali ditangkap dan diasingkan. Pembuangan pertama terjadi di 1913 ke Negeri Belanda, bersama Tjipto dan Soewardi, karena mengeritik perayaan kemerdekaan Belanda di tengah penderitaan rakyat jajahan.

Sekembalinya dalam Tanah Air pada 1918, ia ditangkap lagi oleh Belanda pada 1919 karena dianggap memprovokasi gerakan buruh dalam perkebunan Polanharjo, Klaten. Selepas penangkapan, ia hijrah sebab Semarang ke Sukabumi, lantas menetap di Bandung semenjak 1922 untuk berperan sebagai pendidik yang mengobarkan spirit patriotisme, dengan mendirikan Ksatrian Instituut, yang menjadi pacar sehaluan dengan Perguruan Taman Siswa (pimpinan Soewardi/Ki Hadjar Dewantara).

Douwes Dekker balik mengalami represi karena merekam materi sejarah yang antikolonial untuk siswa-siswa Ksatrian Instituut. Pada 1933 seluruh sendi semi-ilmiah karya Douwes Dekker disita Karesidenan Bandung & dibakar. Douwes Dekker dikenai larangan mengajar. Pada 1941, ia kembali ditangkap dengan tuduhan menjadi kaki tangan Jepang, lantas dipenjarakan dalam Ngawi, Magelang, dan Madiun.

Pada 1942, ia dibuang kembali ke Suriname menggunakan Belanda. Kondisi kehidupan dalam kamp sangat memprihatinkan, sampai-sampai Douwes Dekker yang waktu itu sudah memasuki piawai 60-an, sempat kehilangan kemampuan melihat. Ironisnya, istrinya dengan bernama Johanna Petronella Mossel (guru dan tenaga administrasi Ksatrian Instituut) mengkhianatinya sebab menikah lagi dengan Djafar Kartodiredjo, juga seorang pengasuh Ksatrian Instituut, tanpa pemberitahuan kepada Douwes Dekker (nantinya mereka baru resmi putus 1947).
 
Ernest Douwes Dekker meniti masa tuanya bersama hidup keduanya yang berasal lantaran Sumatera Utara.   Di 21 Januari 1947, melalui perjuangan yang berat, Douwes Dekker berhasil kembali ke Indonesia. Ia menyelundup secara nama samaran Radjiman. Ia langsung bertemu dengan Bung Karno. Sukarno menyambut kedatangannya dengan pelukan erat dan sapaan hangat, “Selamat muncul, Nest. ”

Ernest menyambut dengan berseloroh, “Saya bahagia bahwa pada hari primitif saya dapat kembali di antara saudara-saudara untuk menganjurkan jasa saya kepada Republik, kendati sebagai prajurit natural. Sebab saya adalah seorang penembak jitu”.

Di kabinet Sjahrir, Douwes Dekker tahu menjadi salah seorang gajah pendidikan. Ia juga sudah menjadi penasehat Presiden, carik politik Perdana Menteri, anggota Dewan Pertimbangan Agung, & pengajar di Akademi Menimba Politik di Yogjakarta. Di saat agresi militer Belanda, hampir semua pemimpin Republik ditangkap, termasuk Douwes Dekker.

Dari rumah tahanan, Douwes Dekker dikirim kembali ke Bandung dalam keadaan kurang sehat, menempati rumah dengan sudah reot di ustaz Lembang no. 401. Di setiap akhir pekan di muka rumahnya ia mengibarkan bendera sang saka Merah Putih dengan megahnya untuk mengejek orang-orang Belanda yang plesiran ke Lembang.

Pada 28 Agustus 1950, Ernest Douwes Dekker menghembuskan nafas dengan terakhir, ia dimakamkan dalam TMP Cikutra, Bandung. Berasaskan jasa-jasanya, pemerintah Republik Nusantara menganugerahi gelar kepada Dr Danudirja Setiabudi alias Ernest Douwes Dekker sebagai Satria Nasional pada 9 Nopember 1961.

Berkaca pada Douwes Dekker, nasionalisme orang Indo ini justru tak sudah luntur sekalipun ditangkap & diasingkan berkali-kali. Jiwa Indonesianya tak pernah tergadai meski kesempatan untuk memilih menjadi warga Eropa yang bergelimang harta dan kesenangan begitu mudah jika ia sedia. Jalan hidupnya telah ia habiskan untuk perjuangan kebebasan Indonesia.

Sementara di sumbu lain, hari ini, ada banyak anak bangsa sendiri dan mengaku paling pancasilais, namun tak pernah mengerti cara merawat dan menyayangi negaranya. Pun, demikian dengan sejumlah elite negeri. Mereka rela menjual kedaulatan negara, menukar nasionalismenya karena mengabdi kepada uang dan orang asing.

Jika bapak bangsa yang berdarah indo saja sebegitu kuat nasionalismenya, apalagi kita yang Indonesia tulen. Seharusnya.

Zainal C Airlangga, Peserta Worskhop Penulisan Akbar Fokus BI 2021