Dian Sastrowardoyo Bangga Jadi Anak Haluan

Dian Sastrowardoyo Bangga Jadi Anak Haluan

AKTRIS kelahiran Jakarta, 16 Maret 1982, Dian Sastrowardoyo mengaku bangga pernah kuliah pada jurusan filsafat.  

Menurutnya, kuliah dalam jurusan tersebut banyak memberinya inspirasi, juga memperkenalkannya dengan ragam penalaran unik dari berbagai belahan negeri.

“Aku tidak menyesali pilihan saya pada filsafat itu, aku bisa ngikutin, dan mendapatkan banyak inspirasi sebab filsafat, serta bertemu dosen-dosen semacam Rocky Gerung, Gadis Arivia dengan memperkenalkanku pada dunia nalar yang  beraneka ragam, ” ujar Dian saat diwawancarai Gita Wirjawan di dalam podcast-nya yang bertajuk Endgame, Rabu (7/10) malam.

Aktris yang memulai pekerjaan dari film indie Bintang Anjlok besutan sutradara Rudi Soedjarwo (2000) ini mengaku pernah  kuliah semasa dua semester di Fakultas Norma Universitas Indonesia (UI). Namun, itu tidak dilanjutkan karena merasa  kurang tertarik dengan apa yang dipelajari.

Pada tahun selanjutnya, Dian mengulang ujian masuk guna mengambil jurusan filsafat di kampus yang sama dan  berhasil lulus pada 2007 lulus. “Aku masuk filsafat itu sebab ingin jadi pembuat film. Akan tetapi ya gimana aku bisa belajar ngebuat film kalau aku masuknya UI? Kan nggak ada jurusan film. Terus aku pikir, mungkin belajar fi lsafat itu bakal memberiku dasar-dasar pemikiran yang stabil, jadi apa pun yang mau aku lakukan setelah itu, bakal jadi penulis, dosen, atau bahkan pembuat film suatu saat  nanti pun, aku pasti bisa, ” ungkap perempuan berusia 38
tahun itu.

Salah satu kenangan Dian masa menjalani kuliah di kelas  filsafat ialah sedikitnya jumlah mahasiswa dengan meminati. Di kelas Dian sendiri, jumlah mahasiswanya tidak lebih sebab 20 orang.

“Jadi tidak ada dengan bisa tertidur di kelas. Kalau ada yang ngantuk, dosennya hendak bilang, ‘Eh, kamu ngelamun, ngerti nggak kamu gini ‘. Oleh sebab itu enak sih nggak seperti status yang 500 orang gitu sungguh, ” papar aktris yang sudah dinobatkan sebagai Aktris Terbaik Pesta Film Indonesia 2004 itu.

Ekstra

Istri Maulana Indraguna Sutowo itu sadar bahwa filsafat memang bukan merupakan jurusan yang tenar di Indonesia. Pun setelah lolos menjadi sarjana, begitu sulitnya mencari pekerjaan yang sesuai dengan tanda sarjananya.

“Kadang malah dikira dari ilmu jiwa, jadi aku butuh waktu basi untuk ngasih tahu orang mengenai apa itu filsafat saat melamar kerja, ” ungkap pemeran Nafsu dalam fi lm Ada Apa dengan Cinta? (2002) itu.

Untuk perkara skripsi, meskipun pada saat itu telah dikenal luas sebagai seorang fi gur publik, Dian tidak mau main-main ketika mengerjakan skripsi. Dian mengusung tema skripsi mengenai kritik terhadap ‘beauty Industries’, real di saat yang bersamaan ia sedang menjadi brand ambasador buat produk sabun kecantikan.

“Aku cukup angkuh dengan tulisanku, jadi aku telaah tentang konsep kecantikan, sebenarnya apa sih yang dimaksud kecantikan tersebut oleh para filsuf. Jadi selalu ada konsep yang dimiliki asosiasi terhadap bagaimana perempuan itu seharusnya terlihat cantik oleh masyarakat. Itu tuh yang membatasi aku betul, ” papar pemegang gelar ahli manajemen keuangan itu. (H-2)