meski-harga-cabai-masih-tinggi-kementan-tegaskan-tak-perlu-impor-1

Biar Harga Cabai Masih Agung, Kementan Tegaskan Tak Menetapkan Impor

Promo menarik pada undian Data HK 2020 – 2021.

KEMENTERIAN Pertanian (Kementan)  terus melalukan berbagai upaya untuk menjamin ketersediaan barang strategis termasuk cabai kecil.

Direktur Jenderal Hortikultura, Kementan, Prihasto Setyanto, menegaskan tak ada impor untuk merespons kenaikan harga cabai yang terjadi dua bulan final. Koordinasi dengan berbagai pihak untuk mempercepat pasokan & meredam kenaikan harga lada burung telah dilakukan.

“Kami telah berkoodinasi dengan Badan Ketahanan Pangan, BUMN yakni PT Rajawali Nusantara Indonesia (RNI), Paguyuban Pedagang dan Pemimpin Pasar Induk Kramat Jati, serta dengan para Champion Cabai Indonesia, ” Jelas Anton panggilan akrabnya.

Berbagai upaya jangka pendek dengan dapat dilakukan untuk memantapkan pasokan dan meredam kenaikan harga cabai rawit dibahas dalam rakor tersebut. BKP menggelar pasar cabai gampang di 34 titik dengan berlangsung dari tanggal 8-20 Maret.

Ditjen Hortikultura akan  mendukung pendistribusian cabai dengan fasilitasi sarana distribusi dengan dimiliki. Selain itu Ditjen Horti juga menyusun konvensi kerjasama dengan RNI di dalam upaya stabilisasi pasokan tersebut.  

PT Rajawali Nusindo (RN) yang tidak asing adalah anak Perusahaan PT RNI berperan sebagai off taker yang menjembatani jarang Champion/Pertani cabai dengan Pasar Induk Kramat Jati.

PT RN juga dapat memfasilitasi petani dalam mencarikan pembeli dan memanfaatkan infrastruktur yang dimilikinya di seluruh Indonesia.

Disamping melakukan upaya-upaya tersebut, Direktur Sayuran dan Tumbuhan Obat, Tommy Nugraha menjelaskan bahwa bulan April depan diprediksi pasokan sudah aman sehingga tidak perlu adanya impor cabai.

Data Early Warning System (EWS) kita menunjukkan neraca produksi cabai rawit surplus sebesar 42 ribu ton di kamar April 2021 dan 48 ribu ton di bulan Mei 2021.

Selain membimbing BUMN sebagai off taker, ke depan Ditjen Hortikultura juga akan mendorong petani menerapkan inovasi rainshelter untuk   melakukan tanam pada bulan off season (Juli-Agustus 2021).

Untuk menjaga pasokan cabai di DKI Jakarta sebagai barometer harga produk nasional, maka perlu ada buffer stock berupa standing crop di wilayah-wilayah kawasan penyangga   yang mampu dikendalikan pemerintah.

Kementan juga  terus mengedukasi masyarakat buat mengonsumsi cabai olahan (kering, bubuk, pasta, sambal botol, saus), sehingga tidak bersandar kepada cabai segar.  

“Masyarakat juga dapat melakukan pengawetan sendiri pada zaman harga cabai sedang murah serta menggerakkan masyarakat panti tangga untuk dapat bertanam aneka cabai di pekarangan, sehingga tidak terlalu terpengaruh apabila terjadi lonjakan makna cabai di pasaran, ” ujar Tommy.

Hal selaras juga disampaikan oleh Kepala Asosiasi Agribisnis Indonesia, Abdul Hamid. Saat dihubungi melalaikan telephone, Hamid mengatakan bahwa pemerintah diimbau untuk menahan diri agar tidak impor cabai.

Anggota AACI & mitranya di berbagai daerah   menyampaikan bahwa saat ini cabai mulai panen. Pertama dari dataran tinggi bagaikan Kabupaten Bandung, Sukabumi, Magelang, Temanggung, Kediri dan Blitar dan siap masuk ke pasar.   Diperkirakan mulai akhir Maret 2021 ataupun awal April 2021 pasokan akan bertambah dan makna akan stabil.

“Komitmen AACI bersama pemerintah ke depannya akan memperbaiki sistem budidaya petani dengan optimalisasi teknologi sebagai upaya peningkatan produktivitas, ”  tutup Hamid.

Sebelumnya, harga cabai rawit  menjalani kenaikan dipacunpasokan yang redup akibat berbagai faktor. Mulai dari berkurangnya pertanaman karena rendahnya harga sepanjang tahun 2020 akibat dampak pandemi Covid-19. Ditambah dengan ciri cuaca ekstrem (La Nina) yang menganggu produksi had bencana alam yang merusak pertanaman di beberapa wilayah sentra produksi. (RO/OL-09)